
jendela dunia
Dalam perjalanan antara Jogjakarta – Bandung, sesekali aku menatap pemandangan di luar kereta yang hijau. Aku pergi meninggalkan kondisi nyamanku di Jogja di mana semuanya terasa tanpa masalah. Bisa kulihat orangtuaku setiap waktu, bisa ku makan setiap saat, bisa kulihat wanita terkasihku setiap aku mau…benar-benar nyaman. Hari-hari berlalu begitu saja tanpa ada rasa bersalah.
Dalam perjalanan itu aku tersenyum…ya, aku telah mengambil keputusan yang benar. Aku memang harus keluar dari tempat yang nyaman itu sesegera mungkin.
Setelah puas memandangi pemandangan menghijau, bukit, dan gunung, aku mengambil sebuah buku dari dalam tas ransel yang dari awal memang sudah aku siapkan untuk mengisi perjalananku kali ini. Buku berjudul “Negeri 5 Menara“. Entah kenapa buku ini banyak menghiasi rak-rak utama di toko buku, yang akhirnya aku tafsirkan bahwa buku ini mungkin buku yang bagus.
Halaman aku buka satu persatu, kata pengantar, daftar isi, hingga akhirnya mataku berhenti pada sebuah halaman. Halaman itu berisi sebuah sajak, yang entah mengapa terlihat sangat menarik untukku…. aku pun membacanya dengan seksama.
‘
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, keruh dan menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.
(Imam Syafii’)
‘
Nasehat dan analogi yang sangat indah dari seorang Muslim sekelas Imam Syafii’. Jauh sebelum Spencer Johnson menulis buku terkenalnya yang berjudul “Who Moved My Cheese”. Tak terasa sebuah senyum tersungging di sudut bibirku, dan sebuah bara api yang kecil mulai membakar semak2 kering untuk bersiap membakar bongkahan2 kayu semangat yang lebih besar.
Subhanallah…. perjalanan tahap kedua ini akan aku buat menjadi lebih bermakna, Insya Allah.
Man Jadda Wa Jadda.


Kalian nyadar enggak sih kalo bulan ini lagi banyak banget film2 bagus yang muncul dalam waktu yang bersamaan? Saya sebagai orang yang hobi mengamati menonton film, tentunya pengen nonton semuanya. Lihat saja di bioskop, ada mulai dari UP, GI-Joe, Merantau, Merah-Putih, Punk in Love (lucu lho kalo liat dari trailernya), dsb. Nah itu yang bikin bingung, kalo diturutin semua bisa2 kantong saya jebol! hahaha.. Tapi teteep, tentunya dari semua itu ada dua film utama yang menjadi target prioritas untuk ditonton duluan. Apa kira2?? ………………Jawabannyaaaa! yaituu….. (halah..) adalaahh… Yap, Anda benar! Merantau dan Merah Putih! Keduanya adalah film Indonesia yang dijanjikan akan memberi warna baru terhadap dunia perfilman Indonesia. Biar perfilman Indonesia gak cuma diisi sama hantu2 mesum atau komedian2 mesum itu tuh!. Meuni Mantap!
Dan akhirnya teman2! hari ini saya sudah berhasil menonton dua2nya! baik Merantau maupun Merah Putih! Yay!
*yak silakan tepuk tangan atas pencapaian ini…terima kasih terima kasih…* (biasa aja kali bim). Oya, saya yakin beberapa dari kalian juga pasti udah nonton, tapi saya juga yakin sebagian besar dari kalian belum nonton dan masih bertanya2 seperti apa sih kira2 filmnya? Nah, dalam artikel kali ini akan saya coba bahas mengenai kedua film tersebut, MERANTAU dan MERAH PUTIH. Oya, buat yang gak kuat spoiler jangan dilanjutin baca ya, soalnya bakal ada beberapa spoiler dalam ulasan ini. read more…
jadilah harapan!
Hello every one!!! It’s been a long time… I really missed this blog!!
akhirnya….finally….aku bisa nulis lagi di blogku tercinta ini *puk puk si blog*. Yup! akhirnya aku telah berhasil menyelesaikan pendakian “gunung” yang cukup terjal. Pendakian yang meninggalkan berbagai kisah dan pelajaran berhaga untuk hidup seorang Bimas yang masih perlu banyak belajar. Akhirnya aku telah berhasil mencapai puncaknya, Alhamdulillah. Semua ini tidak dapat aku lakukan tanpa doa dan bantuan dari kalian teman2 dan keluargaku. Terima kasih untuk kalian semua!
Ibarat seorang pendekar yang belajar dipadepokan silat, saat ini sudah saatnya saya turun gunung dan menerapkan ilmu saya. Keluar Kandang! Saya sudah tidak sabar untuk dapat menerapkan ‘ilmu silat’ yang telah saya pelajari baik untuk melengkapi hidup saya maupun melengkapi hidup orang lain. I guess it will be another hard things to do. Another higher and harder mountain to hike. But hard doesn’t mean impossible right?! Semangat! Do the best! And Give the best! Believe that i can make differences!
Sekian untuk saat ini dan terimakasih, hahaha.
PS: buat blogku, Ampun baru bisa update sekarang, ampuunn..
Nasi Jamur. Apa yang kalian bayangkan? Nasi goreng yang dicampur dengan jamur yang lezat itu? Atau nasi yang disiram dengan jamur beserta kuah kental yang gurih dan nikmat? Maaf….sebelumnya saya akan memberi peringatan, jangan pikirkan bayangan lezat itu….karna kalian akan menyesal kalau membayangkannya…
Semuanya berawal dari kebodohan saya. Seorang anak muda yang mencoba hidup hemat dengan memasak nasi sendiri. Untuk mendukung cita-cita hemat itu saya punya sebuah mini rice-cooker with built up rice warmer *halah lebay…maksudnya magic jar kecil yang bisa buat masak nasi* Sejak saat itu (lupa kapan), saya mulai masak nasi sendiri. Lauknya tentu saja beli *yang sebenernya saya pikir2 ga ada ngirit2nya kalo cuma nasi doang,hahaha* Hari berganti hari….akhirnya tibalah sebuah hari dimana itu adalah hari terakhir saya memasak nasi. Tepatnya hari Senin atau Selasa kemarin.
SEDANG. Aku saat ini sedang merasa SEDANG. Liat gambar di samping kan? Ya, itu SEDANG. SEDIH dan SENANG yang demi sebuah efisiensi secara tidak sengaja tersingkat menjadi satu kata.. yaitu SEDANG. Perasaan bercampur antara senang sekali atas sebuah anugerah yang tidak terkira, sesuatu yang sangat penting bagiku. Tetapi kenapa harus dibarengi dengan perasaan kesal marah dan stress yang membuatku menjadi cukup biru untuk dapat memendungkan langit. Sesuatu yang kutunggu belum kunjung datang, padahal waktu telah berlalu selama 3 minggu. Sedangkan sesuatu yang sedang kukerjakan berubah laksana teka teki einstein yang begitu susahnya untuk dipecahkan tanpa alat bantu satupun. Hanya berbekal kemampuan diri sendiri. Ya… semua ini cukup untuk membuatku sedih dan membiru laksana laut biru yang dalam.. Dan perasaan yang teraduk ini membuat rupaku bingung menemukan bentuknya. Haruskah aku menaikkan sudut bibirku? haruskah aku menurunkan sudut mataku? dan haruskah aku membagi tugas kepada kedua mataku agar salah satu bersinar dan salah satunya meredup? Ah… sudahlah… Whatever… yang jelas, sekarang aku harus kembali semangat. Dan Senyumnya itu bagaikan oase di padang pasir yang membangkitkan kembali semangat hidupku menuju daerah yang tak tersentuh itu. SEMANGAT!!
Kata Ramalan mengundang daya tarik tersendiri di telinga manusia. Tapi mengapa manusia bisa sangat tertarik dengan yang namanya ramalan? Semuanya berawal dari dunia yang serba tidak pasti ini. Sedangkan manusia sendiri cenderung tidak menyukai sesuatu yang tidak pasti, sehingga mereka sebisa mungkin berusaha membuat segalanya menjadi stabil dan pasti. Oleh karena itu lah, hal-hal seperti ramalan dan prediksi apapun mengenai masa depan, secara alamiah akan sangat menarik di telinga para manusia. Tujuannya adalah, agar mereka dapat menyiapkan diri, dan langkah2 yang dirasa perlu, sebelum peristiwa yang diramalkan tersebut terjadi. Sehingga, hal2 yang tidak mereka inginkan dapat dihindari dan hal2 yang diinginkan dapat mereka raih.
Entah ada gerangan apa, akhir2 ini saya tertarik dengan yang namanya “Monyet”. Hahaha…tunggu tunggu..jangan tersinggung dulu ya, ini bukan tentang kamu, tapi tentang monyet yang bener bener monyet! Monyet yang binatang, yang suka buat ejek2an, yang kepintarannya paling dekat dengan species manusia. Iya, entah mengapa saya tertarik dengan makhluk satu itu. Tingkahnya lucu, ekspresinya kocak, dsb…pokoknya bikin ketawa lah, hahaha..
Tunggu…tapi coba sanya tanya.. Monyet seperti apa yang ada di bayangan kamu? monyet yang hitam, kecil, pintar, yang jadi temennya Tarzan? Atau monyet coklat yang sering ada di kebun binatang, yang sering kamu ajak foto berdua, sampai2 dari hasil fotonya susah untuk dibedain mana yang kamu dan mana yang monyet? Ataukah monyet kecil lusuh yang suka pergi ke pasar, bawa payung, dan naik sepeda kalo lagi atraksi di depan anak2 kecil? atau jangan2 kamu bayangin saya?? *siapin sepatu buat nyumpel mulut kau kalo emang bener*
Hari ini saya terkejut saat membaca sebuah artikel dari Kartini edisi 20 Agustus s/d September 2009. Artikel ini menceritakan tentang peraih penghargaan tenaga medis teladan dari Departemen Kesehatan. Wanita itu (ya dia seorang wanita, salut!) mengabdi di Puskesmas Eban di Kabupaten Timor Tengah, Nusa Tenggara Timur. Namanya adalah dr. Maria Ivonny. Tetapi bukan beliau yang kali ini membuat saya terkejut, melainkan salah satu hal yang dia perjuangkan di sana, yaitu melawan tradisi sunat tradisional yang oleh warga Timor Leste disebut sebagai SIFON.




