Episode 32 : SIFON – Sunat Tradisional
Hari ini saya terkejut saat membaca sebuah artikel dari Kartini edisi 20 Agustus s/d September 2009. Artikel ini menceritakan tentang peraih penghargaan tenaga medis teladan dari Departemen Kesehatan. Wanita itu (ya dia seorang wanita, salut!) mengabdi di Puskesmas Eban di Kabupaten Timor Tengah, Nusa Tenggara Timur. Namanya adalah dr. Maria Ivonny. Tetapi bukan beliau yang kali ini membuat saya terkejut, melainkan salah satu hal yang dia perjuangkan di sana, yaitu melawan tradisi sunat tradisional yang oleh warga Timor Leste disebut sebagai SIFON.
Memangnya, apa yang aneh dengan tradisi sunat tradisional tersebut? Kenapa dr. Maria Ivonny sampai berjuang untuk melawannya? Dari cara pelaksanaannya, Sifon memang masih sangat tradisional. Sunat tradisional yang dilakukan oleh suku Atoni Meto ini dilakukan dengan alat-alat sederhana seperti silet, beling, tempurung, atau bahkan menggunakan potongan bambu tipis (oouucchh… ga kebayang kaya apa rasanya) yang tidak disterilkan (what??). Memang hal ini cukup mengerikan, tapi akan saya katakan, bahwa bukan hal ini yang membuat saya terkejut (walau hal ini bikin merinding juga). Adalah sebuah ritual yang dilakukan setelah proses sunat tersebut dilaksanakan yang membuat saya terkejut, yaitu ritual berhubungan intim pasca sunat dengan wanita tak dikenal, perawan, ataupun yang berusia tua. Dan parahnya, hubungan itu dilakukan ketika luka sunat belum sembuh! (are you serious????)
Ya, saya pun sempat tidak percaya hingga akhirnya saya melakukan googling dan menemukan beberapa artikel terkait dengan ritual SIFON tersebut. Pemilik tradisi ini, yaitu suku Atoni Meto, sebagian besar hidup di Pulau Timor propinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini nyaris punah, tapi disebutkan bahwa beberapa dari mereka hingga saat ini ternyata masih melakukan ritual tersebut secara sembunyi-sembunyi.
Tradisi Sifon ini biasanya dilakukan oleh suku Atoni Meto pada masa panen. Pada masa-masa itu, pria yang berumur di atas 18 tahun wajib melakukan ritual sunat karena dianggap sudah mampu untuk berhubungan seks yang nantinya akan menjadi syarat tuntasnya ritual. Proses sunatan akan dilakukan oleh seorang tukang sunat yang oleh suku mereka disebut dengan nama Ahelet. Ahelet inilah yang nantinya akan memastikan proses sunat berjalan sesuai dengan tradisi Atoni Meto. Setelah saatnya tiba, para pemuda yang akan disunat itu akan dibawa oleh Ahelet ke sungai tempat dilakukannya proses penyunatan. Sebelum disunat, ahelet akan meminta sang pemuda untuk menghitung batu. Proses ini mereka sebut dengan Nain Fatu.
“Sebelum potong adik harus pilih batu. Selama hidup ini, pernah hubungan seks dengan perempuan, yang punya suami. Ambil batu taruh di tangan”
Nantinya, jumlah batu yang diambil oleh pemuda itu menyatakan jumlah wanita yang pernah disetubuhinya selama ini. Jadi bisa dikatakan hal ini semacam pengakuan dosa agar proses penyunatan berjalan lancar. Ada-ada saja, dan konon mereka percaya apabila pemuda tersebut berbohong maka luka sunatnya akan sulit sembuh. Kemudian, setelah pemuda itu mengambil batu sesuai dengan jumlahnya yang benar, batu-batu itu mereka buang lagi ke sungai dengan tujuan agar pemuda tersebut melupakan wanita-wanita yang pernah disetubuhinya.
Setelah proses nain fatu, pemuda akan disuruh untuk berendam di sungai. Hal ini bertujuan agar tubuh menjadi dingin sehingga diharapkan tidak terjadi pendarahan yang berlebihan. Usai itu, para pemuda pun siap untuk disunat. Proses sunat tradisional ini dilakukan dengan menjepit kulit kelamin bagian atas menggunakan bambu. *jangan dibayangkan…* dan sayatan pun dilakukan dalam sekejap! Setelah itu Ahelet akan langsung membalut bagian yang luka dengan daun kom, daun yang biasa digunakan untuk membantu mengawetkan mayat di Sumba, agar tidak terjadi pendarahan. Usai penyunatan, para pemuda harus segera meminum darah ayam yang dicampur dengan air kelapa dalam sekali tenggak. Hal ini dipercaya dapat mengembalikan darah yang terkuras saat proses penyunatan.
Tetapi ritual belum selesai sampai di sini, para pemuda masih harus melakukan hubungan seks dalam kondisi luka yang masih basah dengan perempuan yang bukan istri atau calon istrinya. Kenapa hal ini harus dilakukan? menurut mereka, ritual ini bertujuan untuk membuang ‘panas’ agar organ seksual pria kembali berfungsi dengan baik. Bila Sifon sudah dilakukan, maka pemuda tersebut tidak boleh berhubungan seks dengan wanita tersebut lagi seumur hidupnya. Karena berdasarkan kepercayaan Atoni Meto, si wanita telah menerima panas dari sang pemuda. Panas ini bisa diartikan sebagai penyakit. Jadi jika sang pria yang dianggap telah membuang penyakitnya pada wanita tersebut berhubungan seks lagi dengan wanita yang sama, maka penyakitnya dipercaya akan kembali pada sang pria. Itulah sebabnya mengapa Sifon tidak boleh dilakukan dengan istri sendiri, dan tidak ada lelaki yang mau memperistri perempuan yang menjadi objek dari Sifon. Nauzdubillah…..
Topik ini menjadi pembicaraan yang menarik karena hal ini bisa dikatakan sebagai wujud perendahan harga diri kaum perempuan, dan sekaligus menjadi resiko penyebaran bermacam-macam penyakit kelamin seperti HIV/AIDS dsb. Hal ini pun bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama dari penganut-penganut agama di Indonesia yang melarang hubungan seks sebelum nikah. Ditinjau secara kesehatan pun proses ini sangat beresiko. Faktanya banyak pemuda yang meninggal karena melakukan tradisi tersebut.
Dengan tidak bermaksud meremehkan adat, sebenarnya dari sini kita juga diberi pelajaran untuk harus bisa memilah-milah dan berpikir kritis. Tidak semua yang berbau adat itu benar dan harus dilestarikan, tapi juga tidak semua yang berbau adat itu salah
Salut untuk dr. Maria Ivonny. Semoga perjuangannya bisa mewujudkan hidup yang lebih baik di Timor Leste!






ak mbayanginnya kok ngeri yo, mbah….jd ikutan mrinding
kamu gimana bim? minat? :p
haha…kalo mau kamu aku bayar satu juta mau gak ki?
Seremmm (/_\)
Satu kata: MENGERIKAN. Bagi saya sih mengerikan.
*Benar-benar tidak bisa membayangkannya
Salam kenal!
Salam kenal juga yok
apdeeeeeettttt!!!
Adhuw… itu emangnya nggak sakit apa?
Itunya tu lho… Disayyat sayat!
Apa lagi belum sembuh sudah harus …….
Aduh Kacian klo bey aku gitu gimana yach…..
bakal konyol kalau dijepit di bambu terus kecepit dan ga bisa lepas.
dipotong semua sekalian…..
tambah info donk, mw q bkin judul pengamatan nich……..
Artikelnya kereeenn >_<
Aduh gimana itu dijepit maksudnya gimana sih masih nggak ngerti mohon penjelasannya ya ..utk B.Indo dicatat di Lembar Hasil Pengamatan .. Please biar PRnya cepet selese ..:)
duuh….gimana ya jelasinnya….
Coba tanya mama atau papanya, pasti tau :p
Aku salut untuk kerajinan anda. Memang sunat tradisional tersebut, sudah hampir punah di Timor Barat. Tetapi hingga tahun 80-an yah masih saja berlaku.Memang sunat tersebut menandakan si pemuda sudah akil baliq dan siap melakukan perkawinan. Memang mengerikan sekali sunat tersebut. Oh ya juga hal lain yang mengerikan adalah pembuatan tatto baik untuk lelaki dan perempuan atoin meto. Karena dulu hanya menggunakan sejenis duri tajam dari hutan, dan sangat menakutkan. Salut untuk anda thx.
Makasih bung Ronny untuk tambahan informasinya
salam kenal ya!
terlepas dari banyaknya adat yang nyeleneh sesungguhnya saya bangga menjadi wong Indonesia. kalo kita menggali lebih dalam masih banyak adat nyeleneh serupa yang seru untuk dijadikan topik obrolan warung kopi sore hari. =D
ka bim aku ada beberapa cerita serupa, ada satu yg di publish.
http://gadiskontemporer.blogspot.com/
hehe ayo ngobrol ! =D
yup, jadi banyak yang bisa diobrolin dan ditelaah. Berasa kita ini kaya ga sih da?
eh..mana cerita yg dipublish?
tulisanmu ngingetin aku salah satu matakuliah di tempatku yang pengen banget aku ikuti tapi sayang g dapet kesempatan untuk ikut. namanya psikopatologi lintas budaya. ngebahas tradisi2 or “disorder” tapi yang lebih indigeneous sifatnya.
waktu baca saking ngerinya aku sampe g tega! udah kamu tulis juga jangan dibayangin, tapi……..