Skip to content

Episode 13 : Panas ke Listrik

Juli 23, 2008
tags:

University of Utah
Jika dipanasi, alat buatan para fisikawan di Universitas Utah, AS ini akan menghasilkan suara melengking dan menghasilkan aliran arus listrik.

Panas dari Matahari, radar, dan pendingin pembangkit listrik tenaga nuklir, atau bahkan prosesor komputer dan kulkas yang selama ini hanya dibuang, suatu saat mungkin dapat dimanfaatkan menjadi sumber listrik. Para fisikawan di Universitas Utah, AS telah mengembangkan sebuah alat genggam yang dapat mengubah panas menjadi getaran suara, lalu mengubahnya menjadi listrik.

“Kami mengubah sampah panas menjadi listrik dengan cara yang sederhana dan efisien melalui suara,” ujar Orest Symko, seorang profesor fisika di Universitas Utah yang memimpin proyek Thermal Acoustic Piezo Energy Conversion (TAPEC). Proses pembangkitan listrik dilakukan dalam dua tahap, yakni dari panas diubah menjadi suara dan suara menjadi listrik.

Tim yang dipimpin Symko hanya perlu mengombinasikan teknologi-teknologi yang telah dikenal saat ini menjadi sebuah perangkat terintegrasi. Di laboratorium, Symko dan timnya mengembangkan mesin  thermoacoustic prime mover untuk mengubah panas menjadi suara. Sedangkan untuk mengubah suara menjadi listrik, mereka memanfaatkan komponen piezoelektrik yang umum dijumpai di pasaran.

Kedua sistem dimasukkan ke dalam resonator berbentuk silinder yang mengandung gulungan material-material pengumpul panas. Saat panas dialirkan ke dalam silinder, misalnya dengan korek api, udara panas di dalam silinder akan mengalir dan menghasilkan suara pada frekuensi tertentu seperti sebuah seruling yang ditiup.

Getaran yang menghasilkan suara itulah yang menyebabkan komponen piezoelektrik aktif dan menghasilkan aliran listrik. Bahan piezoelektrik memang memiliki sifat menghasilkan aliran arus listrik jika diberi tekanan, termasuk getaran lemah dari gelombang suara.

Semakin panjang resonator yang dipakai, suara yang dihasilkan semakin rendah dan makin melengking jika silinder makin pendek. Kini para peneliti tengah menyempurnakan agar alat tersebut dapat dibuat dengan ukuran kecil sehingga menghasilkan suara pada frekuensi ultrasonik agar tidak menimbulkan noise atau gangguan suara.

Perangkat tersebut akan diuji coba selama setahun ke depan untuk mengukur seberapa banyak listrik yang dapat dihasilkan dari panas buangan peralatan radar militer dan fasilitas lainnya. Proyek ini memang didanai militer Angkatan Darat AS yang tertarik untuk memanfaatkan teknologi tersebut untuk menghasilkan sumber listrik alternatif bagi pasukannya di medan pertempuran.

Alat ini kelak juga dapat dipakai untuk mendinginkan laptop atau peralatan elektronik lainnya yang cenderung menghasilkan panas buangan makin besar karena bertambah banyaknya jumlah komponen yang dipakai. Symko yakin dengan alat ini panas yang selama ini dibiarkan bahkan dibuang begitu saja akan menjadi sumber energi terbarukan. Ia berharap dapat menyempurnakan alat ini dalam dua tahun sehingga dapat dipakai bersama panel surya untuk memanfaatkan sinar dan panas Matahari sebagai sumber listrik.

Sumber: Physorg
Penulis: Wah

3 Komentar leave one →
  1. Oktober 4, 2009 15:08

    Info keren…..,
    Thanks……

  2. Januari 24, 2010 08:48

    info bagus, saya juga berfikir bagaimana ya cara mengubah panas matahari menjadi listrik. ternyata bahan yang digunakan untuk itu tidak mudah ditemukan. mungkin lebih mudah mengubah energi cahaya menjadi energi listrik seperti solar cell.

  3. November 27, 2011 08:52

    klo ada artikel baru kirimi ja…!!! terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: