Skip to content

Episode 33 : Get Out!

Oktober 13, 2009

jendela dunia

Dalam perjalanan antara Jogjakarta – Bandung, sesekali aku menatap pemandangan di luar kereta yang hijau. Aku pergi meninggalkan kondisi nyamanku di Jogja di mana semuanya terasa tanpa masalah. Bisa kulihat orangtuaku setiap waktu, bisa ku makan setiap saat, bisa kulihat wanita terkasihku setiap aku mau…benar-benar nyaman. Hari-hari berlalu begitu saja tanpa ada rasa bersalah.

Dalam perjalanan itu aku tersenyum…ya, aku telah mengambil keputusan yang benar. Aku memang harus keluar dari tempat yang nyaman itu sesegera mungkin.

Setelah puas memandangi pemandangan menghijau, bukit, dan gunung, aku mengambil sebuah buku dari dalam tas ransel yang dari awal memang sudah aku siapkan untuk mengisi perjalananku kali ini. Buku berjudul “Negeri 5 Menara“. Entah kenapa buku ini banyak menghiasi rak-rak utama di toko buku, yang akhirnya aku tafsirkan bahwa buku ini mungkin buku yang bagus.

Halaman aku buka satu persatu, kata pengantar, daftar isi, hingga akhirnya mataku berhenti pada sebuah halaman. Halaman itu berisi sebuah sajak, yang entah mengapa terlihat sangat menarik untukku…. aku pun membacanya dengan seksama.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, keruh dan menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

(Imam Syafii’)

Nasehat dan analogi yang sangat indah dari seorang Muslim sekelas Imam Syafii’. Jauh sebelum Spencer Johnson menulis buku terkenalnya yang berjudul “Who Moved My Cheese”. Tak terasa sebuah senyum tersungging di sudut bibirku, dan sebuah bara api yang kecil mulai membakar semak2 kering untuk bersiap membakar bongkahan2 kayu semangat yang lebih besar.

Subhanallah…. perjalanan tahap kedua ini akan aku buat menjadi lebih bermakna, Insya Allah.
Man Jadda Wa Jadda.

2 Komentar leave one →
  1. November 10, 2009 07:26

    bon..bon….ada pisang nih…hahahahah

    mantep2….sering2 lah aku baca diary mu…sapa tau ada curhatnya orang lagi mabok disitu…

  2. November 30, 2009 21:30

    aku juga sudah baca Who Moved My Cheese, sesuatu yang sederhana sebenarnya tapi jarang kita sadari. yaitu untuk berani keluar dari zona nyaman sebelum ‘keju’ itu hilang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: